Rabu, 18 November 2020 14:20

Kerja sama ekonomi Tiongkok-ASEAN bakal alami eskalasi dan pembaruan

Ekonomi

Pada tahun-tahun belakangan ini, hubungan kerja sama bersahabat Tiongkok-ASEAN terus diperkuat, khususnya pasca pandemi COVID-19 di mana kerja sama kedua pihak di bidang ekonomi dan perdagangan menjadi semakin erat. Pada paro pertama tahun ini, ASEAN menggeser Uni Eropa menjadi mitra perdagangan terbesar bagi Tiongkok. ke depannya, seiring dengan penandatanganan kesepakatan kemitraan komprehensif ekonomi regional atau RCEP, perdagangan Tiongkok-ASEAN pasti akan mengalami peningkatan kelas dan pembaruan berkelanjutan.

Selama rentang waktu dari Januari hingga Agustus 2020, volume perdagangan Tiongkok-ASEAN tercatat 415,55 miliar dolar AS, meningkat 3,8 persen dibanding periode sama tahun lalu. Dengan demikian ASEAN secara historis melonjak menjadi mitra perdagangan terbesar bagi Tiongkok.

Selain lonjakan nilai perdagangan, investasi dua arah antara Tiongkok dan ASEAN juga menunjukkan momentum pertumbuhan yang signifikan walaupun pandemi COVID-19 masih terus mewabah. Antara Januari hingga September lalu, investasi langsung Tiongkok di semua sektor negara-negara ASEAN sebesar 10,72 miliar dolar AS, atau meningkat 76,6 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Sementara itu, realisasi investasi ASEAN di Tiongkok sebesar 5,47 miliar dolar AS atau naik 6,6 persen. Sejalan dengan dimulainya pengumpulan dana 1 miliar dolar AS putaran kedua Yayasan Kerja Sama Investasi Tiongkok-ASEAN (China-ASEAN Investment Corporation Fund), kerja sama investasi Tiongkok-ASEAN akan terus memelihara momen pertumbuhan yang mantap.

Peningkatan perdagangan dan investasi dua arah antara Tiongkok dan ASEAN di samping mencerminkan potensi besar kerja sama kedua pihak dalam bidang ekonomi dan perdagangan, juga mencerminkan persatuan kedua pihak dalam upaya menanggulangi pandemi COVID-19.

Kini Tiongkok, Singapura, Laos, Myanmar dan Indonesia telah menjalin hubungan “jalur cepat” untuk kunjungan personel serta “jalur hijau” untuk kemudahan pengangkutan barang. Dinas penerbangan langsung antara satu sama lain juga berangsur dipulihkan.

Sekarang Tiongkok dan ASEAN tengah mengkaji kemungkinan membangun “jalur cepat” dan “jalur hijau” regional antara Tiongok-ASEAN dalam rangka menjaga kestabilan rantai pasok dan rantai industri kawasan. Kesemua tindakan itu akan berfungsi sebagai jaminan kuat bagi pemulihan ekonomi kedua belah pihak.

Yang patut diperhatikan ialah kedua pihak masih terus berupaya mengatasi kesulitan dan menjajaki bidang kerja sama yang baru. Sebagai contohnya, Tiongkok dan Indonesia sepakat meningkatkan kerja sama terkait e-commerce, A.I, Big Data, 5G dan Cloud Computing yang merupakan industri baru atau pola bisnis yang baru. Kerja sama itu telah memperlihatkan sifat saling melengkapi dan ruang perkembangan yang luas antara kedua belah pihak.

Pada 15 November 2020, kesepakatan RCEP yang diprakarsai oleh ASEAN resmi ditandatangani. Hal ini menandai pemberlakuan kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia, dengan populasinya terbanyak, struktur anggota paling majemuk dan potensi perkembangannya paling potensial. Pencapaian ini bukan hanya hasil simbolis dari kerja sama kawasan Asia Timur, juga berarti kemenangan multilateralisme dan perdagangan bebas.

Penandatanganan RCEP melambangkan terobosan baru yang dicapai pengintegrasian intern ASEAN maupun kerja sama regional. Dibanding peraturan baru yang didominasi oleh negara-negara maju, RCEP dalam proses perundingannya menerapkan pola ASEAN serta prinsip saling menguntungkan yang berbasis pada “keadaan istimewa negara-negara peserta perundingan”.

Laos, Myanmar dan Kamboja yang merupakan negara-negara paling tidak maju diberikan pengaturan bersifat peralihan agar mereka dapat berbaur dengan proses integrasi ekonomi kawasan ini.

Tiongkok adalah ekonomi terbesar dalam RCEP. Sedangkan ASEAN memainkan peran dominan dalam proses integrasi ekonomi kawasan Asia Timur. Kedua pihak memiliki pasar raksasa dengan populasinya melampaui 2 miliar jiwa. Setelah RCEP diratifikasi dan diberlakukan, lebih dari 90 persen produk akan diperdagangkan dengan tarif bea masuk nol persen, di mana taraf perdagangan jasa dan keterbukaan investasi antara satu sama lain akan jauh lebih tinggi daripada kesepakatan perdagangan bebas “10+1” yang sudah ada.

RCEP akan benar-benar meningkatkan volume perdagangan Tiongkok-ASEAN, juga akan memberikan manfaat besar bagi perusahaan kedua belah pihak untuk memperluas investasi dan pangsa pasarnya di dalam maupun di luar kawasan ini. RCEP akan sangat mendorong perkembangan ekonomi, pertumbuhan inklusif, penciptaan lapangan kerja serta pemberdayaan rantai industri dan rantai pasok secara keseluruhan.

Pemberlakuan RCEP tentunya akan mendorong Tiongkok dan negara-negara ASEAN terus menciptakan peluang perkembangan di tengah pandemi, dan mendongkrak kedua pihak meningkatkan kerja sama dan membina komunitas senasib sepenanggungan Tiongkok-ASEAN yang semakin erat.

favorite 2 likes

question_answer 0 Updates

visibility 238 Views

Update
No Update Available
Related News
Kerja sama ekonomi Tiongkok-ASEAN bakal alami eskalasi dan pembaruan
Mengapa dunia kagum pada ekonomi Tiongkok yang berkembang “Di Luar Dugaan”?
Kupas upaya dan manfaat Indonesia terkait RCEP
×