Sabtu, 21 November 2020 08:29

Jangan ngawur dengan memutar balikkan fakta lagi

Luar Negeri

Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), persetujuan perdagangan bebas terbesar di dunia, berhasil ditandatangani pada tanggal 15 bulan ini. Itulah suatu hal yang menguntungkan pertumbuhan ekonomi di semua 15 negara partisipan. Akan tetapi, sejumlah negara di luar kawasan mulai merasa cemas. Pada hari itu juga, Harian New York Times segera menerbitkan sebuah artikel yang berjudul China-Led Trade Pact is Signed, in Challenge to US. Kesalahan fakta di dalam artikel itu ternyata telah menjadi tertawaan orang.

Judul artikel itu menyebut persetujuan itu “dipimpin oleh Tiongkok”, dan paragraf pertama langsung mengatakan “sebuah pakta yang dibentuk oleh Beijing”, hanya dua kalimat itu cukup membikin orang cerdik-pantai mempertanyakan profesionalisme dan kredibilitas artikel itu. RCEP merupakan bentuk kerja sama yang diparkarsai ASEAN pada tahun 2012 berkat keberanian dan upaya Indonesia sebagai ketua bergilir ASEAN waktu itu. Fakta jelas ini tak dapat dipulas.

Asal usul inisiatif RCEP telah dicatat sejarah. Meninjau kembali masa lampau, krisis moneter Asia pada tahun 1997 membawa kerugian malapetaka kepada berbagai negara Asia Timur,sementara juga menginspirasikan keinginan keras berbagai negara untuk mendorong kerja sama regional. Pada akhir tahun itu, para pemimpin ASEAN, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan berkumpul di Kuala Lumpur, dan mekanisme kerja sama 10 plus 3 diresmikan. Pada tahun 2005, KTT Asia Timur pertama yaitu 10 plus 6 digelar di Kuala Lumpur, dengan diselenggarakan oleh negara ketua bergilir ASEAN dan dihadiri oleh kepala negara atau pemimpin pemerintah 10 anggota ASEAN serta Tiongkok, Jepang, Korsel, India, Australia dan Selandia Baru. Dengan didorong oleh mekanisme kerja sama 10+3 dan 10+6 yang dipimpin oleh ASEAN itu, ASEAN berangsur-angsur secara terpisah menandatangani persetujuan kerja sama dengan 6 negara mitranya, di antaranya Persetujuan Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok (ACFTA), Persetujuan Perdagangan Bebas ASEAN-Korsel (AKFTA), Kemitraan Ekonomi Komprehensif ASEAN-Jepang (AJCEP), Persetujuan Perdagangan Bebas ASEAN- Australia- Selandia Baru (AANZFTA) serta Persetujuan Perdagangan Bebas ASEAN-India (AIFTA). Sedangkan di antar satu sama lain 6 negara mitra ASEAN itu juga telah ditandatangani persetujuan kerja sama, misalnya, Persetujuan Perdagangan Bebas Tiongkok-Selandia Baru, Persetujuan Perdagangan Bebas Tiongkok-Australia dan lain sebagainya. Pada tahun 2011, Indoensia sebagai ketua bergilir ASEAN dengan berani mengemukakan konsep RCEP dengan bertujuan untuk mengintegrasi kemitraan-kemitraan tersebut dan menghapuskan “Efek Mangkuk Spaghetti”.sejarah dengan jelas mencatat status kepemimpinan ASEAN selalu dalam inisiatif dan pembentukan RCEP.

Pemerintah Tiongkok tak pernah menyebut dirinya sebagai pemimpin RCEP melainkan menjadi pendukung tegas ASEAN. Netizen asal mencari artikel di situsweb Tiongkok dapat mudah menemukan bahwa semua artikel yang memperkenalkan konsep RCEP pasti ada satu kalimat, yaitu “RCEP disponsori oleh ASEAN pada tahun 2012”. Apalagi, pemimpin dan pejabat Tiongkok pernah berkali-kali di berbagai ajang internasional menyatakan sikapnya untuk “mendukung peranan utama ASEAN dalam kerja sama regional”dan “mendukung ASEAN untuk memainkan peranan positif dalam urusan internasional dan regional”. Pada bulan September tahun ini, Anggota Dewan Negara merangkap Menlu Tiongkok Wang Yi di depan Pertemuan Menlu KTT Asia Timur ke-10 menegaskan kembali dukungan Tiongkok kepada ASEAN yang memainkan peranan dominan dalam kerja sama Asia Timur. Selain itu, artikel sarjana terkait menyatakan bahwa jika melihat dari sejarah diplomasi Tiongkok dengan ASEAN seusaiPerang Dingin, Tiongkok selalu mendukung solidaritas intern ASEAN dan juga peranan dominan ASEAN dalam kerja sama regional, konsistensi Tiongkok itu bukan bahasa diplomatik saja, melainkan karena ASEAN yang terintegrasi dan bersolidaritas sesuai dengan kepentingan negara Tiongkok.

Menurut dateline New York Time itu, artikel itu ternyata dilaporkan dari Beijing. Coba tanya, sebuah artikel yang dikirim dari Beijing itu kenapa bukan catatan fakta-fakta yang didengar dan dilihat di Tiongkok? Selain itu, menurut biografi 2 orang jurnalis, yaitu Keith Bradsher dan Ana Swanson, mereka berdua adalah wartawan khusus perdagangan dan ekonomi. Sangat kecil kemungkinan kedua orang bersama-sama salah ingat mengenai fakta pihak sponsor RCEP, jadi, apakah maksud mereka untuk menyesatkan para pembaca?

Artikel Harian New York Times itu telah dikutip oleh sejumlah media Barat yang lain. Sangat jelas tujuannya yaitu sengaja menyesatkan pembaca dan menghasut intimen anti-Tiongkok. Akan tetapi, peranan penting ASEAN tak boleh diremehkan. Pejabat dan para sarjana dari anggota ASEAN juga pernah berkali-kali menegaskan, RCEP adalah bentuk kerja sama yang disponsori dan dimimpin oleh ASEAN. Persetujuan RCEP yang memiliki lebih dari 14 ribu halaman teks hukum itu dapat disepakati pasti sudah dipertimbangkan penuh oleh berbagbai pihak, dan pasti akan memperkuat lagi ekonomi yang merupakan sekitar sepertiga di seluruh dunia itu. Barangkali kenyataan itu mencemaskan sjeumlah orang, maka artikel yang ditulis dalam psikologi itu baru berbau menghasut. Sebenarnya, masih terdapat banyak artikel media-media Amerika Serikat dengan mengabaikan fakta dan hanya bertujuan untuk menghasut sentimen anti-Tiongkok. Media-media yang suka berbohong diharapkan mengubah sikapnya.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 195 Views

Update
No Update Available
Related News
44 tahun ke depan, manusia akan ambil sampel dari bulan dengan Wahana Chang’e-5
Pidato Presiden Xi Jinping buka prospek cerah perekonomian dunia
Tiongkok dukung G-20 bersinergi atasi krisis
×