Rabu, 25 November 2020 13:59

Tiongkok yang terbuka terus perluas jaringan pertemanan

Luar Negeri

Baru-baru ini Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sempat menerima wawancara eksklusif pemimpin redaktur Bloomberg, John Micklethwait. Dalam kesempatan itu Lee Hsien Loong secara terus terang mengatakan, hampir tiada negara yang rela bergabung dalam aliansi manapun tanpa adanya Tiongkok. Tiada negara yang mau terlibat dalam Perang Dingin. Di dunia yang pancaroba ini, semakin banyak negara menyadari bahwa ketimbang konfrontasi dalam bentuk bersekutu, kerja sama dan menang bersama dalam kerangka multilateral barulah jalan keluar yang tepat.

Dalam perihal kerja sama, Tiongkok selalu berpegang teguh pada sikap yang terbuka, inklusif dan menang bersama. Dalam pertemuan informal APEC yang berakhir belum lama lalu, Xi Jinping menyatakan, perekonomian Tiongkok sudah berintegrasi dengan ekonomi dunia secara mendalam. Tiongkok mutlak tidak akan menapak tilas jalan lama atau berbalik ke masa lampau, tidak akan mengusahakan “pemisahan hubungan ekonomi” atau pun mengusahakan “lingkaran kecil” yang eksklusif dan tertutup.

Pada 15 November 2020, Tiongkok dan 14 negara lainnya menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). Pencapaian ini diakui umum sebagai kemenangan multilateralisme dan perdagangan bebas. Perjanjian RCEP yang didominasi oleh ASEAN tersebut beranggotakan tiga negara Asia Timur yakni Tiongkok, Jepang dan Korsel serta dua negara yang menjadi sekutu AS alias Australia dan Selandia Baru.

Selama perundingan yang berlarut 8 tahun itu, Tiongkok selalu berpendapat bahwa multilateralisme dan perdagangan bebas pasti akan mencapai kemenangan pada akhirnya, dan selalu mendukung ASEAN memainkan peran dominan dalam proses negosiasi. Berkontras tajam dengan India yang mundur dari negosiasi RCEP karena menganggap risikonya lebih besar daripada peluang,

Tiongkok selalu berpandangan bahwa RCEP tidak boleh hanya dinilai dari risiko, melainkan juga dari peluang yang potensial. Hal ini memang sudah terbukti oleh kenyataan. Melalui RCEP, Tiongkok dan Jepang telah mendirikan hubungan ekonomi dan perdagangan bebas, yang terwujud dalam bentuk konsesi tarif bilateral. Pengaturan ini semacam ini adalah yang pertama kali terjadi antara Tiongkok dan Jepang, juga adalah pertama kali Tiongkok menandatangani kesepakatan perdagangan bebas dengan ekonomi yang berada di urutan 10 besar dunia. Dengan demikian, tingkat cakup perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara mitra perdagangan naik menjadi 35 persen.

Bagi negara-negara lain yang bergabung dalam RCEP, Tiongkok yang mempunyai pasar raksasa pasti akan membawa manfaat tak terhingga kepada perusahaan negara-negara lainnya. Ke depannya perusahaan yang berada di kawasan pemberlakuan RCEP akan mendapatkan lebih banyak manfaat karena kesepakatan tersebut. Rakyat di berbagai negara akan berkases menikmati barang-barang impor dengan harga yang lebih rendah. Baik konsumen maupun produsen sudah pasti akan memperoleh lebih banyak manfaat dari pencapaian kesepakatan RCEP.

Dengan bergabung dalam RCEP yang merupakan perjanjian perdagangan terbesar di dunia, Tiongkok akan terus memperluas koneksi atau jaringan pertemanan di dunia. Dalam pertemuan informasi APEC kali ini, Xi Jinping dalam pidatonya menyatakan, Tiongkok akan aktif mempertimbangkan potensi masuk menjadi anggota Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).

CPTPP yang beranggotakan 11 negara termasuk Jepang, Kanada dan Australia resmi diberlakukan pada 30 Desember 2018. Populasi yang tercakup perjanjian tersebut sebanyak 498 juta orang. Kesepakatan TPP merupakan pendahulu CPTPP.

Pada permulaan TPP didominasi oleh AS dan Jepang. Perjanjian tersebut umumnya dipandang sebagai pengaturan yang khusus mengucilkan Tiongkok. Akan tetapi, semenjak Donald Trump naik panggung pada 2017, AS langsung mundur dari TPP. Setelah itu, Jepang secara inisiatif berperan dominan dalam proses perundingan TPP dan pada akhirnya mencapai kesepakatan CPTPP, yang membekukan 20 pasal yang sebelumnya diajukan oleh AS. Hal ini dilakukan dengan harapan AS dapat kembali ke perundingan pada masa kelak. Namun tiga tahun sudah lewat, AS masih belum menunjukkan sikap yang tegas terkait CPTPP. Malah yang terlebih dulu memberikan respons positif adalah Tiongkok, yang menyatakan akan mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam CPTPP.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng baru-baru ini menyatakan, Tiongkok mendukung pengaturan perdagangan bebas kawasan yang terbuka, transparan dan saling menguntungkan. Bagi perjanjian perdagangan bebas kawasan mana pun, asal perjanjian itu sesuai dengan prinsip WTO, dan bersifat terbuka, inklusif, transparan serta menguntungkan globalisasi ekonomi dan integrasi ekonomi regional, maka Tiongkok akan bersikap terbuka. Menanggapi sinyal positif dari Tiongkok, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menyatakan Jepang mendukung perluasan keanggotaan CPTPP.

Tiongkok tidak mengusahakan “pemisahan hubungan ekonomi” atau “lingkaran kecil” yang eksklusif. Tiongkok selalu menepati perjanjiannya. Pada lima tahun lalu Tiongkok mengusulkan pendirian Bank Investasi Infrastruktur Asia atau AIIB untuk mendorong perkembangan berkelanjutan ekonomi, memperbaiki konektivitas infrastruktur serta meningkatkan kemitraan kawasan. Sekarang anggota AIIB sudah meluas hingga 6 benua dengan anggotanya bertambah dari 57 menjadi 102.

Di jaringan pertemanan AIIB ini, tidak hanya terdapat negara-negara berkembang, tapi juga terdapat negara-negara maju seperti Inggris, Perancis dan Jerman. Selama lima tahun ini, AIIB sudah menyediakan dana khusus infrastruktur sebanyak 20 miliar dolar AS kepada 24 negara anggota. Sejak wabah virus corona merebak di seluruh dunia, AIIB segera beraksi dan mendirikan dana rehabilitasi dengan skalanya 10 miliar dolar AS untuk mendukung para anggotanya mengatasi tekanan ekonomi, fiskal dan kesehatan publik akibat pandemi COVID-19.

Dalam waktu 3 bulan sejak didirikannya, dana khusus penanggulangan pandemi tersebut sudah disalurkan ke 12 negara dan meningkatkan keyakinan negara-negara penerima dana untuk mengatasi kesulitan. Memperluas kepentingan bersama melalu keterbukaan dan menikmati peluang melalui kerja sama. Tiongkok yang terbuka dan inklusif akan terus memperluas jaringan pertemanan dan koneksinya dengan dunia.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 146 Views

Update
No Update Available
Related News
Multilateralisme apa yang dibutuhkan dunia?
Pandangan Xi Jinping terhadap ekonomi dunia pada 4 tahun Lalu
Sanksi Tiongkok terhadap Pompeo tak hanya balasan yang setara, tetapi juga harmoni hubungan Tiongkok-AS
×