Jumat, 08 Januari 2021 11:54

Bagaimana Politikus AS tanggapi kekerasan di Capitol?

Luar Negeri

Saat kongres AS sedang mengadakan sidang gabungan untuk mengkonfirmasi hasil pemilihan presiden pada hari Rabu (6/1) di gedung Capitol, para pendukung Presiden AS Donal Trump menyerbu Capitol dan mencoba mengubah hasil pemilu. Sejauh ini, 4 orang tewas dalam kerusuhan tersebut.

Kegiatan kekerasan terjadi di AS yang disebutnya sendiri sebagai “menara kebebasan dan demokrasi” dan ini cukup mengagetkan dunia. Padahal, insiden serupa sering dilakukan politikus AS yang pandai mendalangi “revolusi warna” di berbagai pelosok dunia.

Sejak terjadinya kontroversi legislasi di Hong Kong pada Juni 2019, kegiatan kekerasan antara lain main pukul, merusak, menghancurkan serta menyerang gedung legislatif Hong Kong persis mirip adegan di Capitol AS kali ini. Akan tetapi, kegiatan kekerasan di Hong Kong malah disebut politikus AS sebagai “pemandangan yang indah”.

Dikabarkan, seorang warganet Lebanon dalam cuitannya mengatakan: “kalau AS melihat apa yang dilakukannya di negaranya sendiri, AS pasti akan menyerang AS dan membebaskan AS dari rezim kejam AS.”

Padahal, kekerasan yang terjadi di Capitol AS tidak hanya membuktikan kebangkrutan “Demokrasi ala AS”, tapi juga membelejeti kekurangan konflik antar partai politik dalam sistem AS. Politikus AS hendaknya sadar bahwa lebih baik mengelola dengan baik urusan sendiri daripada tiap hari menjaja “demokrasi ala AS”, konsep itu telah ditampar berulang kali oleh kenyataan dan menjadi suatu lelucon di dunia.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 138 Views

Update
No Update Available
Related News
Modal asing yang masuk Tiongkok cetak rekor baru
Tiongkok kenakan sanksi kepada Mike Pompeo
Inspeksi perdana Xi Jinping pada Tahun Baru
×