Senin, 18 Januari 2021 08:45

Sistem kesehatan AS yang disandera kapital

Covid-19

Pandemi COVID-19 yang merenggut banyak jiwa di AS telah secara tuntas mengungkapkan hakiki sistem layanan kesehatan Amerika Seikat (AS) yang hanya melayani kapital tanpa mengindahkan nyawa rakyat.

Di negara-negara Eropa dan Jepang yang maju umumnya diberlakukan sistem jaminan asuransi kesehatan sosial yang mencakup seluruh masyarakat. Namun di AS diberlakukan sistem medis terpadu yang terdiri atas asuransi kesehatan komersial dan layanan asuransi medis pemerintah sebagai pelengkap.

Dokter, perusahaan asuransi, pabrik farmasi dan lembaga layanan asuransi medis bersaing dan bersekongkol satu sama lain sehingga masyarakat bahkan kekayaan negara yang dikorbankan dalam proses pertarungannya. Usia harapan hidup orang Amerika di bawah 25 negara anggota lain dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD).

Gara-gara marketisasi kelebihan dan kekurangan pengawasan administrasi, sistem kesehatan AS berkembang menjadi medan perang kapital yang saling merebut keuntungan dirinya. Salah satu fenomena ialah pasar obat-obatan dimonopoli oleh beberapa pabrik farmasi ukuran besar dan sebagai akibatnya, AS menjadi salah satu negara dengan harga obat-obatan termahal di dunia.

Sebagai informasi, sedikitnya 19 juta orang dewasa AS terpaksa berbelanja obat-obatan ke Kanada atau Meksiko yang harganya lebih rendah.

Sejak tercetusnya pandemi COVID-19, setiap penderita kasus COVID-19 di AS, biarpun tidak disertai penyakit bawaan atau komplikasi, rata-rata membayar ongkos pengobatan sebanyak 9.800 dolar AS dengan sisanya ditanggung oleh asuransi kesehatan. Jika si pasien menginap penyakit komplikasi, maka ongkos pengobatannya akan menembus 20 ribu dolar AS. Oleh karena itu, hasil survei menunjukkan, setiap dari 11 orang AS yang terpapar virus corona akan menolak layanan medis karena tidak mau menanggung biaya mahal pengobatan.

Selama pandemi merajalela, banyak warga AS kehilangan pekerjaan dan kehilangan asuransi sekaligus. Bagi mereka, satu-satunya pilihan adalah pasrah jika mengalami nasib naas tertular virus corona.

Ketika masyarakat AS meronta-ronta di tengah pandemi, kelompok kepentingan malah berfoya-foya di tempat tak kasatmata, asyik melobi lembaga legislatif agar merumus kebijakan yang sesuai dengan kepentingan dirinya, dalam rangka memperoleh lebih banyak keuntungan, sehingga terbentuklah kemacetan sirkulasi yang tak tergoyahkan.

selama uang tetap mendominasi politik AS, kepentingan seluruh masyarakat AS mustahil terhindar dari gerogotan “tikus” sistem kesehatan. Itulah “tragedi” yang disutradarai oleh kapital AS.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 111 Views

Update
No Update Available
Related News
Abaikan risiko wabah, AS terjerumus malapetaka HAM
Jumlah kematian akibat virus Corona di AS 500 ribu orang lebih
Antrean vaksin di Pasar Tanah Abang berkerumun
×