Sabtu, 20 Pebruari 2021 16:56

Vaksin Tiongkok adalah produk publik untuk seluruh umat manusia

Covid-19

“Kesetaraan distribusi vaksin adalah ujian moral terbesar yang dihadapi komunitas global,” ujar Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres dalam pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB, Rabu (17/2) waktu setempat. Guterres kembali memprotes ketidakseimbangan terkait distribusi vaksin Covid-19, bahwa “Sebanyak 75 persen suplai vaksin Covid-19 di seluruh dunia dikuasai oleh 10 negara. Masih ada 130 negara yang belum menerima satu pun dosis vaksin Covid-19.”

Laporan terbaru yang dirilis organisasi non profit, ONE Campaign menunjukkan, berdasarkan data yang diterbitkan 5 perusahaan farmasi internasional antara lain Pfizer, Monderna, AstraZeneca, Johnson & Johnson dan NVAX, terhitung sampai sekarang, Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Australia, Kanada dan Jepang sudah memiliki 3 miliar dosis vaksin, lebih banyak 1 miliar dosis daripada target kebutuhan vaksinasi untuk seluruh warga negaranya yaitu 2,06 miliar dosis. Laporan menunjukkan, penimbunan vaksin yang dilakukan negara kaya di dunia Barat seperti Amerika dan Inggris itu akan mengakibatkan negara miskin gagal mendapat vaksin yang secukupnya.

Masyarakat internasional semakin menyadari, apabila virus corona terus tersebar di daerah miskin, mungkin akan muncul lebih banyak varian virus dan patogen yang fatal, tingkat penularan akan semakin tinggi, vaksin akan kedaluwarsa dan tidak berguna lagi, sehingga penyebaran pandemi akan berlarut lebih lama sehingga melamban laju pemulihan ekonomi global. Hanya setelah masyarakat internasional bersolidaritas dan berkoordinasi untuk menjamin penyuplaian dan distribusi vaksin secara setara, serta seluruh umat manusia mendirikan keyakinan akan vaksin, baru dapat mengalahkan virus corona. Tiongkok sedang dengan aksi riil mendorong distribusi vaksin secara setara, agar vaksin dijadikan sebagai produk publik global dan dapat diakses dan terjangkau oleh semua orang, agar vaksin Tiongkok menjadi “vaksin untuk rakyat”.

Tiongkok telah bergabung dalam rencana COVID-19 Vaccine Global Access (COVAX). Awal bulan ini, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengumumkan, Tiongkok akan menyediakan 10 juta dosis vaksin kepada COVAX, terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang. Dewasa ini tiga jenis vaksin Tiongkok sedang menerima evaluasi WHO termasuk EUL dan PQ. Salah satu vaksin CanSino yang bernama Convidecia sudah menyelesaikan prosedur penyerahan LOI, evaluasi data secara bergulir akan dimulai pada April mendatang.

Dalam masalah vaksin, dunia Barat selalu memanfaatkan hak bicara di arena internasional untuk menodai Tiongkok. Hal ini dilakukannya untuk menutupi masalah dirinya sendiri. Pada kenyataannya, Tiongkok selalu bersikap ilmiah mendorong penelitian dan produksi vaksin secara mantap. Vaksin Tiongkok disambut baik oleh banyak negara. Contohnya, setidaknya 8 kepala negara atau pemerintah telah secara terbuka disuntik vaksin buatan Tiongkok. Belum lama lalu, Wakil Presiden Indonesia Ma'ruf Amin menerima vaksinasi produk Tiongkok, Sinovac. "Alhamdulillah baru saja tadi beberapa waktu yang lalu saya sudah divaksin, alhamdulillah tidak ada masalah juga tidak sakit, tidak ada rasa pusing, biasa-biasa saja," kata Wapres yang telah berusia 77 tahun. Sementara itu menurut penelitian terbaru yang diumumkan Institut Butantan Brasil, vaksin Sinovac efektif melawan varian Covid-19 yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan.

Sejauh ini di dunia sering muncul intervensi geopolitik terhadap penanggulangan pandemi, kini prasangka terhadap vaksin pun berkemungkinan berkembang menjadi “nasionalisme vaksin”. Sedangkan Tiongkok melakukan kerjasama internasional vaksin covid-19, tidak mengusahakan target geopolitik apa pun, tidak menghitungkan keuntungan ekonomi apa pun, tidak menyertai prasyarat politik apa pun. Kini, Tiongkok sudah menyediakan bantuan vaksin kepada 53 negara berkembang yang mengajukan permintaan, telah dan sedang mengekspor vaksin kepada 22 negara. Rangkaian tindakan Tiongkok tidak hanya mendorong kesetaraan vaksin, juga menyediakan “jaminan Tiongkok” agar umat manusia mengalahkan virus corona. Justru seperti apa yang ditunjukkan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di depan rapat terbuka masalah vaksin covid-19 Dewan Keamanan PBB, tiada prinsip yang lebih penting daripada umat manusia, tiada pertimbangan yang lebih prioritas daripada nyawa manusia. Segala usaha yang dilakukan Tiongkok bertujuan agar vaksin Tiongkok dapat diakses oleh semua orang dengan harga terjangkau, agar vaksin Tiongkok benar-benar menjadi “vaksin untuk rakyat”.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 104 Views

Update
No Update Available
Related News
Antrean vaksin Covid 19 di RSUD Duren Sawit, Jaktim
Abaikan risiko wabah, AS terjerumus malapetaka HAM
Jumlah kematian akibat virus Corona di AS 500 ribu orang lebih
×