Senin, 06 Desember 2021 09:59

Bagaimana pakar asing memahami Tiongkok

Luar Negeri

Konferensi Internasional Understanding China atau “Memahami Tiongkok” 2021 diadakan di Guangzhou pada tanggal 1-4 Desember, dengan dihadiri oleh ratusan tamu dari dalam dan luar negeri Tiongkok. KTT tersebut mengusung tema “Dari Mana dan ke Mana--Perubahaan Seratus Tahun Dunia serta Tiongkok dan PKT”. Selama KTT tersebut, para hadirin membahas bagaimana membangun komunitas senasib sepenanggungan, memperluas dan memperdalam kepentingan bersama berbagai negara dalam latar belakang hubungan PKT dan Tiongkok dengan dunia, serta sejarah seratus tahun PKT.

Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidato virtualnya di depan konferensi tersebut menekankan bahwa untuk memahami Tiongkok saat ini, harus memahami PKT.

Profesor tamu Universitas Tsinghua, sarjana Inggris Martin Jacques menganggap bahwa untuk memahami PKT, perlu meneliti hubungan peradaban Tionghoa dengan PKT secara mendalam.

Dia mengatakan, PKT dan Tiongkok berpegang teguh pada prinsip meritokrasi, ini adalah inti peradaban Tionghoa. Kesuksesan PKT terletak pada kemampuannya untuk mengekspresikan, mencerminkan dan membeberkan peradaban Tionghoa. Kemampuan ini tidak diperoleh dalam semalam saja, ini adalah proses yang panjang, dan disempurnakan dalam reformasi. Reformasi bertujuan untuk mencapai keharmonisan dan keseimbangan antara masa kini dan masa lalu.

Ini merupakan tahun kedua konferensi diadakan secara daring karena merebaknya pandemi Covid-19, khususnya merebaknya varian baru virus Corona, yaitu Omicron. Maka pembangunan komunitas senasib sepenanggungan untuk kerja sama penanganan wabah dan kesehatan umat manusia terus menjadi tema penting dalam konferensi tahun ini.

Mantan Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Zapatero menyatakan, “Kita membutuhkan kepemimpinan Tiongkok. Khususnya bimbingan Tiongkok di bidang penanggulangan wabah dan pemulihan ekonomi, serta kemampuan Tiongkok untuk memproduksi berbagai macam obat-obatan esensial. Kami berharap ini dapat menjadi semangat Tiongkok, dan semangat ini dapat terus diperkembangkan dan diperdalam”.

Mengenai hubungan Tiongkok-AS, Mantan Menteri Keuangan AS Lawrence Summers mengatakan, “Tiongkok dan AS sama seperti dua orang yang berbeda, yang mempunyai sikap dan prinsip yang berbeda juga. Kaita berada dalam sebuah sekoci, mengapung di laut berombak yang jauh dari pantai. Keadaan ini tidak mengizinkan kita tenggelam dalam kesalahpahaman dan perselisihan, sedangkan kedua pihak seharusnya memfokuskan masalah-masalah yang benar-benar penting, dengan demikian barulah dapat kita hidup bersama”.

Di depan Pertemuan Pembangunan Sabuk dan Jalan ke-3 yang diadakan 19 November lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping menunjukkan akan mendukung negara-negara berkembang mengembangkan energi hijau dan rendah karbon, mendorong pembagian informasi dan pembangunan kemampuan di bidang pembangunan hijau dan rendah karbon, serta memperdalam kerja sama di bidang ekosistem dan pembenahan iklim.

Wakil Ketua Pusat Studi Strategi Internasional Indonesia (CSIS) Jusuf Wanandi menyatakan, kehidupan hijau harus dicapai secara bertahap, Inisiatif Sabuk dan Jalan tidak hanya menyediakan peluang, tapi ini juga adalah peluang besar untuk mendorong gaya kehidupan hijau seperti kebijakan hijau, teknologi hijau, perusahaan hijau, pengelolaan hijau serta kompetisi teknologi hijau yang mulai populer di pesisir Asia-Pasifik, daerah pantai Afrika Timur serta Eropa Kontinental.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 162 Views

Update
No Update Available
Related News
Gladi pertama gala Tahun Baru Imlek 2022 digelar
Tuduhan terhadap Chen Gang dicabut
Kegagalan demokrasi ala AS pada tahun lalu
×