Selasa, 20 September 2022 10:04

Di balik tragedi imigran Amerika Latin ada mimpi buruk AS

Luar Negeri

“Bagi kami segalanya telah berakhir”. Hermelinda Monteverde, seorang ibu warga Meksiko hingga kini masih belum dapat keluar dari kesengsaraan. Anaknya tewas dalam sebuah kasus tragedI imigran di San Antonio, Texas, AS pada bulan Juni lalu. Kasus ini mengakibatkan lebih dari 50 orang tewas.

Para imigran Amerika Latin merantau ke utara dengan membawa ‘impian AS’, mereka tak pernah menyangka bahwa yang mereka pegang mungkin adalah ‘tiket sekali jalan’. Menurut laporan Fox News, pejabat Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menyatakan, dalam tahun fiskal 2022 (dari tanggal 1 Oktober 2021 sampai sekarang), terdapat 782 imigran yang tewas saat melewati perbatasan AS dan Meksiko, jumlah korban tewas kembali memecahkan rekor yang baru, di antaranya, pada bulan September saja sudah terdapat 30 imigran yang tewas. Pada awal tahun ini, Organisasi Internasional untuk Imigrasi (IOM) mencantumkan perbatasan AS-Meksiko sebagai jalur imigrasi darat yang paling mematikan di dunia.

Untuk menyelesaikan masalah imigrasi Amerika Latin, pemerintah AS pun mencari banyak solusi. Misalnya membangun tembok perbatasan dengan biaya mahal, mengerahkan lebih dari sepuluh ribu polisi yang disebut sebagai ‘Serigala Hutan’ oleh orang Amerika Latin, namun krisis imigrasi masih tak kunjung reda, dan kematian justru muncul lebih banyak lagi.

Menelusuri sumbernya, masalah imigrasi Amerika Latin adalah akibat dari perbuatan AS mencampuri urusan dalam negeri Amerika Latin dengan menerapkan ‘Doktrin Monroe’. Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez pernah menunjukkan, para imigran meninggalkan kampung halamannya karena kemiskinan dan mencari kesempatan kerja, jika AS tidak mengharapkan imigran terus membanjir, hendaknya mereka membantu negara-negara Amerika Tengah mengembangkan ekonomi. Namun di bidang tersebut, AS selalu hanya membual tanpa beraksi. Pada bulan Mei tahun ini, Lopez pernah mengeluh, dalam perundingan selama 4 tahun, AS tidak pernah mengalokasikan dana apa pun untuk perkembangan negara-negara Amerika Tengah.

Berbicara tentang kenyataan, terjadinya tragedi imigran ini berkaitan langsung dengan kebijakan imigrasi AS yang kacau.

Selain itu, dalam keadaan polarisasi politik di AS, masalah imigrasi telah menjadi alat politik dalam perselisihan antar partai.

Selama beberapa tahun terakhir ini, media mengungkapkan banyak perbuatan buruk pemerintah AS terhadap para imigran, bagi para imigran Amerika Latin, ‘impian AS’ pada akhirnya sesungguhnya adalah ‘mimpi buruk AS’.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 71 Views

Update
No Update Available
Related News
Tiongkok ungkapkan bukti rincian serangan siber dari AS
Xi Jinping kunjungi pameran “Berjuang Maju Terus Pada Era Baru”
Kisah ke-10 tentang Xi Jinping, pemimpin reformasi Tiongkok
×