Selasa, 06 Juni 2023 12:30

Perilaku AS yang selalu kontradiktif tidak berlaku bagi Tiongkok

Luar Negeri

Belakangan ini, AS kembali tampak kontradiktif dalam hubungannya dengan Tiongkok. Di satu sisi, dalam Dialog Shangri-La ke-20, Menteri Pertahanan AS Lloyd James Austin III menyerang Tiongkok dengan menyinggung masalah Selat Taiwan dan apa yang disebutnya sebagai ‘kebebasan pelayaran’, sementara itu, tentara AS mengklaim bahwa kapal perangnya melewati Selat Taiwan dan dicegat oleh Tiongkok. Di sisi lain, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik Daniel Joseph Kritenbrink berkunjung ke Tiongkok pada tanggal 4 Mei lalu dan mengupayakan kontak dengan Tiongkok.

Mencegat dan berkonfrontasi sambil berdialog dan bekerja sama, cara AS seperti ini sudah tak asing lagi. Dalam hubungannya dengan Tiongkok, kontras perilaku AS yang membuat orang lain tidak nyaman tersebut sebenarnya adalah strategi normal AS terhadap dunia luar. Ada analisis berpendapat, negara adikuasa sperti AS yang terbiasa mengamuk di komunitas internasional tidak benar-benar mempunyai konsep diplomasi yang umum.

Jika ingin berdialog, berdialoglah, jika ingin berperang, berperanglah. Menghadapi diplomasi hegemonis AS yang egois tersebut, ada sebuah lagu Tiongkok yang berbunyi, jika teman datang ada arak yang bagus, tapi jika serigala datang akan disambut dengan senapan. Jika sejumlah orang AS tidak mengetahui cara bergaul dengan negara lain yang paling dasar yaitu menghormati kedaulatan negara lain, mereka perlu memikirkan kembali sikap serius Menteri Pertahanan Tiongkok pada Dialog Shangri-La. Taiwan adalah Taiwan Tiongkok, bagaimana menyelesaikan masalah Taiwan adalah urusan orang Tiongkok sendiri, tak perlu diintervensi kekuatan luar. Pesawat tempur atau kapal perang asing yang terbang atau berlayar di dekat wilayah dan perairan teritorial laut Tiongkok harus menaati Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Coba bayangkan jika pada suatu hari, kapal perang atau pesawat tempur negara lain berlayar atau terbang di pesisir barat atau timur AS, bagaimana perasaan Washington? Masih berpendapat bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar?

Orang-orang dapat melihatnya dengan jelas, penyebab utama hubungan Tiongkok dan AS yang terperosok dalam kesulitan saat ini adalah kesalah-pahaman AS terhadap strategi Tiongkok. Siapa yang bersalah, dialah yang perlu membetulkan kesalahannya. AS jangan berharap Tiongkok mendukung AS di bidang yang dibutuhkannya, sementara mereka mengabaikan bahkan merugikan kepentingan Tiongkok. Fakta telah membuktikan, dalam bergaul dengan Tiongkok, AS jangan berharap dapat berbuat semau-maunya. AS hendaknya belajar untuk saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, bekerja sama dan menang bersama.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 395 Views

Update
No Update Available
Related News
Pendalaman reformasi dan keterbukaan Tiongkok,peluang pembangunan baru bagi Dunia
Transformasi digital dan modernisasi Tiongkok: Pembelajaran bagi Indonesia dan dunia
Peluang global dari pendalaman reformasi Tiongkok pada era baru
×