Kamis, 21 September 2017

Upacara memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Markas Kostrad


(Penkostrad. Kamis,17 Agustus 2017). Bertempat di lapangan upacara Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat. Kamis (17/8), Prajurit dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Makostrad melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hut ke-72 Republik Indonesia tahun 2017.

Bertindak selaku Inspektur Upacara Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal TNI Benny Susianto, S.I.P., Komandan Upacara Komandan Polisi Militer Kostrad Kolonel Cpm Antonius Widodo dan sebagai pembaca Pembukaan UUD 1945 Wakil Kepala penerangan Kostrad Letnan Kolonel Inf Piter Mulyadi.

Pada kesempatan tersebut Kaskostrad membacakan amanat tertulis Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono, menyampaikan bahwa peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah mengkaruniai Bangsa Indonesia dengan kemerdekaan setelah melalui sebuah perjuangan yang sangat panjang dan tidak kenal lelah dengan mengorbankan jiwa dan raga.

“Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia adalah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Menjadi merdeka merupakan dambaan dari seluruh rakyat Indonesia pada masa itu yang rela diraih dengan mengorbankan jiwa dan raga, tidak hanya untuk lepas dari penjajahan, namun lebih penting dari itu yaitu merdeka berarti bahwa Bangsa Indonesia juga sederajat dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia,” Hal ini ditegaskan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono.

Dalam amanatnya Kasad Jenderal TNI Mulyono juga menekankan tentang fenomena ancaman perang informasi yang tidak kalah hebatnya dengan ancaman militer.

Arus informasi yang sangat deras tersebar melalui media teknologi, telah terbukti mampu mempengaruhi cara berpikir dan perilaku manusia. Fenomena Arab Spring yang diawali oleh kudeta di Mesir dan bermula dari provokasi yang tersebar lewat media sosial beberapa tahun yang lalu, merupakan bukti nyata yang harus dijadikan sebagai pelajaran. Ancaman ini juga masih mempengaruhi situasi psikologis bangsa Indonesia sebagai akibat dari perang informasi.

Kasad Jenderal TNI Mulyono dalam amanatnya juga menyampaikan, secara umum masyarakat Indonesia sudah mulai menyadari bahwa ancaman terhadap kedaulatan negara melalui celah informasi ini tidak bisa dilepaskan dari semakin hilangnya nilai-nilai Pancasila dari dalam jiwa masyarakat Indonesia sehingga semangat persatuan dan kesatuan bangsa serta nilai-nilai musyawarah untuk mufakat semakin memudar dan tergantikan oleh ego sektoral serta intoleransi yang semakin menguat. Kondisi tersebut merupakan lahan yang sangat subur untuk tumbuh kembangnya radikalisme maupun separatisme.

Dikatakan Kasad, sebagai dampak negatif dari sangat luasnya akses ke media sosial yang saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia serta dampak penyalahgunaan Narkoba yang telah menimbulkan terjadinya lost generation (generasi yang tidak berkualitas) di Indonesia.
Ditegaskan Kasad, maraknya peredaran Narkoba juga merupakan ancaman yang nyata bagi kedaulatan Negara Indonesia. Saat ini Indonesia berada pada kondisi “Darurat Narkoba”. Penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba berdampak buruk terhadap kesehatan, perkembangan sosial ekonomi serta keamanan dan kedamaian Indonesia. Narkoba secara nyata dapat memicu kejahatan lainnya seperti pencurian, pemerkosaan, pembunuhan dan berbagai kejahatan lain. Indonesia bukan sekedar tempat transit tetapi sudah menjadi pasar Narkoba terbesar di Asia. Lebih daripada itu, penyalahgunaan Narkoba telah menjamah hampir seluruh lapisan masyarakat dan strata sosial ekonomi.

“Saya tekankan kepada para prajurit dan ASN TNI AD agar menjauhi penyalahgunaan Narkoba, karena TNI AD telah menyatakan untuk perang terhadap Narkoba”, tegas Kasad.

REDAKSI-Ma

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Peristiwa