Rabu, 13 Desember 2017

RSPAD Gatot Soebroto siap antisipasi penyakit pandemi dan bencana darurat

(Puspen TNI). Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto siap mengantisipasi menangani penyakit pandemi dalam keadaan darurat dan bencana darurat. Untuk penanganan bencana darurat tersebut, RSPAD Gatot Soebroto secara maksimal telah memiliki fasilitas penanganan bencana darurat.

Hal tersebut disampaikan Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Mayjen TNI Dr. dr Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI sebagai Ketua Panitia penyelenggara Konferensi Internasional 2017 dan Ketua Organisasi International Committee Military Medicine (ICMM) bersama Kapuskes TNI Mayjen TNI Dr. Ben Yura Rimba, MARS saat menggelar jumpa pers dengan media massa, bertempat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Selasa (24/10/2017).

Mayjen TNI Dr. dr Terawan Agus Putranto menjelaskan, untuk penanganan bencana darurat, RSPAD Gatot Soebroto secara maksimal telah memiliki fasilitas penanganan bencana darurat, di antaranya ruang pandemi dengan tekanan kamar negatif untuk penanganan pasien yang mengidap virus H1N1 Flu Burung dan MersCov, Chamber CBRN (Chemical, Biology, Radiation dan Nuclear) yang merupakan kamar dekomtaminasi untuk pasien dengan radiasi nuklir atau senjata biologi, Digital Subtraction Angiography (DSA) yang berfungsi untuk melihat kelainan pembuluh darah otak, sumbatan, dan aneurisma.

Kepala RSPAD Gatot Soebroto Mayjen TNI Dr. dr Terawan Agus Putranto menegaskan bahwa ada atau tidak ada virus, tetap harus ada pencegahan dan deteksi dengan prosedur yang panjang untuk mengidentifikasi virus pandemi buatan. “Kita harus mulai dari preventif dan deteksi, tidak bisa serta merta dapat menentukan apa benar sudah ada insiden atau tidak,” katanya.

Sementara itu, Kapuskes TNI Mayjen TNI Dr. Ben Yura Rimba, MARS mengatakan bahwa TNI tidak terlalu khawatir pandemi yang natural, tetapi salah satu ancaman yang dikhawatirkan TNI adalah pandemi buatan yang digunakan sebagai senjata biologis.

Pada kesempatan tersebut, Kapuskes TNI mensimulasikan bahwa ancaman kesehatan buatan seperti virus yang dimasukkan ke dalam sebuah tabung reaksi, lalu virus tersebut dimasukkan dalam satu wadah es krim dan dipecahkan di dalam tempat menonton film sehingga akan menyebar kemana-mana dan 500 s.d 1000 orang akan berdampak terkena virus.

Dalam kunjungannya ke RSPAD Gatot Soebroto, peserta Konferensi Internasional dibagi dalam empat kelompok dengan empat lokasi berbeda, yaitu ruang Digital Subtraction Angiography, Cell Cure, Pandemi dan Dekomtaminasi. Para peserta konferensi internasional mendapat penjelasan dari para perwira medis yang menangani di masing-masing ruangan. (Badar/Puspen TNI)
REDAKSI-der

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Kesehatan