Minggu, 27 Mei 2018

Pasca-gerhana bulan, fisika Unimed lakukan kajian astronomi

Medan – Jurusan Fisika Universitas Negeri Medan (Unimed) turut ambil serta dalam moment gerhana bulan (lunar Eclipes) yang melewati sebagian besar wilayah Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, meliputi berbagai subtansi kegiatan.

Di antara kegiatan yang dilaksanakan meliputi pengamatan langsung gerhana bulan dengan menggunakan teropong bintang meade instrument LX600-ACF, Sholat Khusuf Gerhana Bulan yang dilaksanakan di Mesjid Baiturrahman Unimed, dan dirangkai keesokan harinya dengan kajian astronomi dalam bentuk Focus Discussion Group (FGD).

Kegiatan yang dilaksanakan mulai 31 Januari hingga 1 Februari tersebut mengambil tempat di 3 lokasi, yaitu ruang laboratorium Astronomi di lantai 4 bagi para mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin menyaksikan langsung fenomena lunar Eclipes, ruang workshop dosen dan mahasiswa di lantai 1 dan Mesjid Baiturrahman Unimed saat pelaksanaan sholat gerhana dengan penceramah Ustadz Julham Efendi LC dan turut hadir Ketua PHBI FMIPA Unimed Dr. Hasruddin, M.Si, Ketua Jurusan Fisika Unimed Dr. Alkhafi maas Siregar, Ketua Panitia Dr. Rahmadsyah, M.Si, dosen, Kepala Lab Fisika Drs. Abdul Hakim S, M.Si, Komunitas Fisika Bumi serta ratusan mahasiswa dan masyarakat umum.

Ketua Jurusan Fisika Dr. Alkhafi Maas Siregar pada Kamis (1/2), disela-sela diskusi menyatakan bahwa moment-moment kegiatan ini merupakan sebuah gejala alam yang sangat jarang terjadi butuh waktu sampai 152 tahun untuk dapat melihat gejala ini terjadi, hal ini merupakan sebuah kondisi yang sarat dengan ilmu pengetahuan yang selama ini dalam dalam ilmu Fisika hanya dijelaskan pada tataran teory, saat ini merupakan sebuah pengejawantahan teori tersebut.

“Selain itu juga beberapa teori yang lazim muncul dalam bidang sains seperti hukum keppler yang dikenalkan oleh Johannes Kepler, tentang tata surya yang lintasannya berbentuk elips sehingga terjadi fenomena Supermoon dimana jarak bulan dan bumi pada lintasan yang terdekat sehingga menyebabkan penampakan bulan 14% lebih besar dari biasanya”, papar Doktor dalam bidang Fisika tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh ketua panitia Dr. Rahmatsyah, M.Si yang didampingi oleh para pemateri diskusi bahwa, kegiatan tersebut merupakan kegiatan edukasi kepada masyarakat umum dan bahwa masyarakat diajak tidak hanya melihat fenomena gerhana bulan saja akan tetapi masyarakat diedukasi untuk mampu menjelaskan proses terjadinya gerhana dan gejala-gejala apa saja yang dapat terjadi ketika terjadinya gejala, hal tersebut yang ingin dilakukan oleh kampus, ungkap ketua Program Pasca Sarjana Pendidikan Fisika Unimed.
Selain itu dala kesempatan ini Unimed juga memberikan akses kepada masyarakat sekitar untuk dapat menggunakan teropong Bintang Meade Instrument LX600-ACF dengan kecanggihan mampu mengunci posisi bintang dan dan bulan secara Outomatis (StarLock automatic guider), sehingga presisi posisi bulan dapat terdeteksi. Dan daya perbesaran teleskop tersebut mempu menjangkau permukaan bulan, dan bagi masyarakat yang tidak dpat mengakses langsung dapat melihat juga streaming langsung lewat chanel Youtube Universitas Negeri Medan.

Setelah proses pengamatan bintang secara langsung masyarakat dan komunitas-komunitas mahasiswa dan dosen yang beragama muslim melaksanakan sholat di mesjid Baiturrahman Unimed. “Jadi dari sisi intelektual dan spiritual dapat terkombinasi secara massif, dan saat ini didiskusikan dengan mengundang pakar-pakar fisika Bumi dan Astronomi agar pengetahuan dan pengalaman lapangan dapat secara gamblang di cerna”, pungkas Doktor Fisika Bumi tersebut.
REDAKSI-der

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Pendidikan