Minggu, 23 September 2018

Wadah Pemikir AS: AS berkemungkinan menjadi negara keji adidaya

Menurut laporan survei yang diumumkan Rasmussen Reports, badan survei independen AS, 1 per 3 responden berpendapat bahwa mungkin terjadi perang saudara ke-2 di AS dalam kurun waktu 5 tahun. Selain itu, laporan PBB mengenai kondisi kemiskinan dan ketidakadilan AS menyebutkan, kebijakan penurunan pajak sebesar US$ 1,5 triliun yang dilunucurkan pemerintah Donald Trump akan menghasilkan banyak orang kaya, sehingga lebih-lebih menimbulkan kesenjangan antara miskin dan kaya di AS.

Padahal, politik luar negeri Donal Trump juga banyak dikritik dunia saat ini.

Rogue Kagam, periset senior yang juga disebut sebagai ahli teori kebijakan diplomatik proteksionisme baru dari Brookings Institution AS baru-baru ini dalam artikelnya mengingatkan bahwa AS berkemungkinan menjadi negara keji adidaya. Dia menunjukkan, mengenai perdagangan internasional, persetujuan nuklir Iran, anggaran belanja defensif NATO dan masalah Korut, Trump berani melanggar komitmen yang dilakukan presiden AS sebelumnya yang dilakukan di atas dasar moral dan strategis, hanya untuk memaksakan dunia tunduk kepadanya, meski dalam sementara waktu saja.

Sejak berkuasanya Donald Trump, AS telah berturut-turut melepaskan diri dari sejumlah persetujuan internasional antara lain Persetujuan Kemitraan Ekonomi Strategis Trans-Pasifik (TPP), Persetujuan Perubahaan Iklim Paris, Persetujuan Komprehensif Nuklir Iran, AS juga mundur dari Organisasi Pendidikan, Ilmu dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Dewan HAM PPB. Menurut ungkapan media-media AS, kepada penasihatnya Trump bahkan beberapa kali menyatakan akan mundur diri dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tanpa peduli pada seruan komunitas internasional, AS bersikeras secara sepihak melancarkan perang dagang terhadap negara-negara sekutu maupun tidak sekutu, termasuk Uni Eropa, Kanada, Meksiko, Tiongkok, Jepang dan Korsel.

Pada Hari Kemerdekaan AS yang jatuh pada 4 Juli ini, Trump menuding kenaikan harga minyak oleh organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan dia meminta OPEC segera beraksi menurunkan harga minyak. Perbuatan AS itu persisi seorang keji yang semau-maunya menghina patokan internasional.

Sejak dahulu AS selalu menyebutkan diri sendirinya sebagai “polisi dunia”, dan menyebutkan negara lain sebagai negara keji. Namun selama satu tahun ini, tindakan kejinya telah menimbulkan kekhawatiran dari tokoh-tokoh berpandangan jauh, baik dari domestiknya maupu internasional.

Penulis rublik Washington Post Robert Samuelson menunjukkan, prestasi terbesar AS pasca Perang Dunia II adalah mendorong kerja sama internasional melalui persekutuan militer dan kebijakan perdagangan, kerja sama internasional tersebut yang didominasi AS merupakan satu tugu monument pada zaman ini. Trump masih tidak mampu menghancurkan sistem kerja sama tersebut, tapi politik proteksionisme yang dilaksanakannya akan mengganggu globalisasi, ini adalah tindakan yang sama sekali tidak bisa diterima dunia.

Pada bulan lalu, 10 senator AS termasuk Ketua Komisi Diplomatik Senat AS Bob Corker mengajukan mosi di mana meminta membatasi kekasaan AS untuk memungut bea masuk terhadap produk-produk impor.

Mantan Sekjen NATO Javiet Solana baru-baru ini dalam artikelnya menunjukkan, “dunia barat” adalah satu teori fuzzi yang terbentuk pasca Perang Dunia II, tapi sejumlah dukungan ideology pada teori tersebut sedang dirusak Trump, dengan alasan “AS Dinomorsatukan”.

Ternyata, AS sedang menjadi negara keji adidaya dari pada negara adidaya sebelumnnya, bahkan menimbulkan ancaman besar kepada komunitas internasional.
REDAKSI-AnJ

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Lain-Lain