Rabu, 15 Agustus 2018

Pembalasan Tiongkok terhadap AS dinilai rasional, menahan diri, luwes dan akurat

Belum lama berselang AS mengumumkan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 25 persen daripada 10 persen semula terhadap produk senilai US$ 200 miliar yang diimpor dari Tiongkok.


Komisi Tarif Dewan Negara Tiongkok kemarin (3/8) mengambil keputusan untuk mengenakan tarif yang berbeda yang masing-masing sebesar 25 persen, 20 persen, 10 persen dan 5 persen terhadap produk senilai US$ 60 miliar yang diimpor dari AS.


Jadwal pemberlakuan tarif tambahan tersebut akan tergantung pada aksi AS. Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan, tingkat tarif tambahan yang akan diberlakukan Tiongkok tersebut adalah tindakan pembalasan yang rasional dan menahan diri.


Tiongkok berhak untuk memberlakukan pembalasan lainnya berdasarkan aksi apa yang akan diambil AS. Pembalasan Tiongkok tersebut termasuk tindakan yang terpaksa. AS mengumumkan daftar pengenaan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap produk Tiongkok senilai US$ 200 miliar pada 11 Juli lalu.


Sejak itu, Tiongkok terus melakukan pertimbangan yang berhati-hati terhadap tindakan pembalasan yang akan diambil Tiongkok demi menjaga kepentingan perusahaan dari kedua negara. Dua hari yang lalu, AS di satu pihak menyatakan akan melakukan perundingan dengan Tiongkok, di pihak lain malah menyatakan akan menaikkan tarif tambahan menjadi 25 persen dari 10 persen semula.


Tindakan AS yang memberikan tekanan secara maksimum kepada lawannya jauh sebelumnya sudah diketahui masyarakat internasional, maka keputusan AS tersebut tidak menimbulkan kegegeran, malah ditanggapi dingin. Namun bagi Tiongkok, tindakan AS yang terus meningkatkan tekanannya telah merugikan kepentingan Tiongkok dan rakyatnya.


Tiongkok mau tak mau harus mengambil tindakan pembalasan menurut UU Perdagangan dengan Luar Negeri, Peraturan Tarif Ekspor Impor serta hukum internasional. Tiongkok berbuat demikian justru untuk mencegah perang dagang meningkat, bertanggung jawab terhadap rakyat, dan juga adalah untuk membela kepentingan bersama mancanegara dunia.


Perang dagang tidak menghasilkan pemenang pihak mana pun. Oleh karena itulah, Tiongkok mengambil tindakan pembalasaan tersebut dengan berlandaskan pada perimbangan kesejahteraan masyarakat, daya tahan perusahaan dan operasional rantai industri global. Keputusan Tiongkok tersebut telah menunjukkan prinsip yang rasional, menahan diri, luwes dan akurat.


Pertama, Tiongkok melakukan “baku tembak” dengan Trump yang memainkan “strategi orang gila”, melainkan terus berorientasi pada kepentingan rakyat, membalasnya secara terpadu, berusaha menurunkan pengaruhnya terhadap masyarakat dan perusahaan.

Kedua, Tiongkok mengenakan tarif yang berbeda terhadap produk endemik AS senilai US$ 60 miliar dari 5.207 kategori. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan pengaruh produk AS terhadap kehidupan masyarakat dan produksi perusahaan Tiongkok. Tujuannya adalah dapat secara semaksimal mungkin mengurangi dampaknya, dan telah sepenuhnya menunjukkan keluwesan kebijakan tersebut.


Sementara itu, tarif dalam empat tingkat tersebut juga merupakan pukulan presisi setelah mempertimbangkan secara teliti mengenai pengaruh produk impor dari AS. Tak peduli AS mengenakan tarif tambahan terhadap produk Tiongkok senilai US$ 50 miliar atau 200 miliar, tak peduli tarif sebesar 10 persen atau 25 persen yang akan diberlakukan, Tiongkok sudah melakukan persiapan yang penuh.


Tiongkok mengeluarkan tindak balas berdasarkan pertimbangan dari situasi keseluruhan Tiongkok dan AS. Di satu pihak AS terus meningkatkan tekanan dan melakukan ancaman, di pihak lain Tiongkok sudah mempersiapkan diri. Tiongkok mempertahankan prinsip melakukan negosiasi dengan berlandaskan pada prinsip saling menghormati dan sama derajat.


Tiongkok dan AS adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Siapa yang terus berperan sebagai stabilisator ekonomi dunia, dan siapa lagi yang berperan sebagai pengacau? Jawabannya sudah diketahui umum.

REDAKSI-AnJ

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Media