Rabu, 15 Agustus 2018

Larry Kudlow memberikan `Hullucinogen` kepada AS

Mengenai Amerika Serikat (AS) yang secara sepihak mengeskalasi persengketaan perdagangan, Tiongkok hari Jumat (3/8) mengumumkan akan memungut bea masuk terhadap produk AS senilai US$ 60 miliar pada empat tingkat yang berbeda dari 25% hingga 5%. Direktur Komisi Ekonomi Nasional Gedung Putih Larry Kudlow melontarkan komentar kepada berbagai media, selain memperingatkan bahwa “ sebaiknya Tiongkok jangan menilai rendah kemampuan Presiden Donald Trump untuk menunaikan komitmennya atas perdagangan”, dia juga menyatakan bahwa AS akan dengan secepatnya membentuk aliansi untuk menanggapi “aksi perdagangan yang tidak adil” Tiongkok.

Mengenai aliansi, Larry Kudlow mengatakan, belakangan ini AS dan Eropa sedang mengusahakan tercapainya persetujuan perdagangan, dan diperkirakan akan tercapainya kesepakatan perdagangan dengan Meksiko dengan secepatnya.
Terpaksa dikatakan bahwa Larry Kudlow “berkhayal” atas apa yang disebut aliansi tekanan, bahkan memberikan “hullucinogen” kepada AS.

Kecuali dipaksa, negara-negara tersebut nampaknya tidak beralasan untuk merugikan kepentingan negara sendiri untuk bergabung dengan aliansi yang disebut Larry Kudlow.
Memang benar, apabila komunitas utama, seperti Tiongkok, AS, Uni Eropa dan Jepang duduk setara untuk mengadakan konsultasi mengenai reformasi atas Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), guna menjamin sepenuhnya operasi normal sistem perdagangan multilateral, agar bentrokan perdagangan dapat diselesaikan secara efektif dalam lingkup WTO, tetapi bukan secara sembarangan menerapkan undang-undang domestik, bahkan mengenakan bea masuk secara menghukum, maka seluruh dunia akan mendapat manfaatnya. Inilah arah perkembangan konstruktif, tetapi bukan apa yang disebut aliansi tekanan terhadap Tiongkok.
REDAKSI-AnJ

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Media