Rabu, 15 Agustus 2018

Sikapi berita hoax, YARSI gelar gathering PR dan marketing RS se-Jabodetabek

Dalam menyikapi berita hoax, Rumah Sakit YARSI mengadakan gathering khusus untuk praktisi Public Relation (PR) dan Marketing Rumah Sakit (RS) se-Jabodetabek, Rabu (08/08).

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 100 peserta itupun bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bagian PR dan Marketing RS dalam menjaga reputasi perusahaan.

"Acara ini dibuat agar para PR dan marketing mengetahui tujuan utama kerjanya, yaitu membuat serta menjaga reputasi RS. Sehingga perlu dibekali ilmu untuk dapat menyikapi fenomena yang ada saat ini, salah satunya mengenai berita-berita hoax," ujar Dr. Mulyadi Muchtiar, MARS, Direktur Utama RS YARSI.

Kegiatan ini juga diisi pemateri Anjari Umarjianto, S.Kom, SH, MARS dan juga Dr. ir. Haikal Hasan Baras, MA yang menyampaikan "Teknik Negosiasi yang Baik".

Menurut Mulyadi, adanya berita hoax harus diklarifikasi. Sehingga tidak menimbulkan kesimpang siuran. Jangan berlarut dengan satu keadaan yang menyebabkan lambatnya respon. Sementara teknik negosiasi yang menjadi kunci dari performa seorang marketer.

"Kalau perlu diberikan jawaban berita yang berimbang untuk meluruskan. Peran PR RS untuk mengantisipasi ini sangat penting, karena pemberitaan yang tidak tepat berdampak terhadap reputasi sebuah organisasi," ungkapnya.

Sementara itu, Anjari Umarjianto, S.Kom, SH, MARS mencontohkan adanya RS yang pernah dituntut oleh pasiennya dengan menggandeng pengacara kondang karena merasa telah terjadi malpraktek.

"Nah hal itu kan seharusnya tidak terjadi jika dari awal RS mempunyai manajemen service yang baik dan cepat dalam merespon masalah ini. Karena sesuatu yang masuk ke garis reputasi jika dari awal tidak dilayani dengan cepat maka akan berkembang negatif," tandasnya.
REDAKSI-AnJ

Masuk atau Daftar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Infodarianda.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.


IdA Lain-Lain