Selasa, 16 Pebruari 2021 14:22

WHO: Ternyata Tiongkok berkontribusi begitu banyak!

Covid-19

Pada masa awal sejak wabah virus corona merebak, para ilmuwan Tiongkok secara kumulatif melakukan pengambilan sebanyak 900 spesimen di pasar. Pekerjaan itu termasuk yang amat berat.

Pekan lalu, tim peneliti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyelesaikan misi pencarian fakta tentang asal-usul virus corona di Tiongkok. Para ilmuwan WHO memuji Tiongkok telah menunjukkan transparansi yang patut diapresiasi. Mereka juga sempat membantah teori konspirasi dan fitnahan terhadap Tiongkok satu per satu.

Akan tetapi, sejumlah media Barat termasuk The New York Times masih terus menelurkan kabar palsu seperti “Tiongkok menghalangi investigasi” dan “Tiongkok menolak pembagian data”. Laporan-laporan itu memantik kecaman dan teguran para ilmuwan WHO. Peter Daszak dari WHO pada 13 Februari lalu di akun Twitternya mencela “New York Times tidak tahu malu!”

Sehari berselang, The New York Times yang ditegur Peter Daszak memuat wawancara eksklusif dengan Peter Daszak secara lengkap, kalimat demi kalimat. Kali ini media tersebut mendapat pengakuan Daszak di akun medsos. Dalam wawancara itu, Daszak mengungkapkan sejumlah informasi yang sebelumnya tidak pernah terungkap, misalnya pada masa awal penyebaran wabah, Tiongkok secara tepat waktu dan profesional melakukan penyelidikan yang luas, dan telah mengambil banyak sampel.

Ia menyatakan, tim peneliti WHO dan para ilmuwan Tiongkok menyisir berbagai hipotesis, dan berpendapat kemungkinan besar virus SARS-Cov-2 berasal dari hewan. Sekali lagi dia menegaskan bahwa apa yang disebut “kebocoran virus dari laboratorium” sangat tidak mungkin.

Kinerja Tiongkok pada Masa Awal Pandemi Dikagumi WHO
Dalam wawancara eksklusif itu, jurnalis The New York Times secara langsung bertanya kepada Daszak, apakah dia memperoleh sejumlah informasi yang sebelumnya tidak pernah berakses ketika melakukan kunjungan kerja ke Tiongkok.
Daszak menyatakan, semenjak hari pertama tim peneliti WHO tiba di Tiongkok, mereka telah melihat data baru dan informasi baru yang tidak pernah dilihatnya di luar wilayah Tiongkok.

Misalnya siapalah para pedagang pasar makanan laut Huanan, dari mana rantai pasokannya, dan data-data tentang pasien kelompok pertama. Ia memuji para personel Tiongkok melakukan kerja sama tingkat tinggi dan performanya sangat bagus. “Ketika kami meminta lebih banyak informasi, para ilmuwan Tiongkok akan segera beraksi untuk mencarinya, dan beberapa hari berselang, mereka akan menyediakan hasil analisanya sehingga kami bisa mendapat informasi yang baru.

Kesemua itu sangat bernilai. Selama penelitian ini berlangsung, kami tidak bisa mengungkapkan terlalu banyak informasi agar tidak merusak proses pencarian fakta tentang asal usul virus corona ini.” Daszak menunjuikkan, pada saat Pasar Makanan Laut Huanan Wuhan ditutup pada 31 Desember 2019 dan 1 Januari 2020, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok telah mengirim sebuah grup ilmuwan untuk mencari fakta ke pasar itu.

Dia menggambarkan aksi Tiongkok pada waktu itu sebagai “penelitian yang sangat luas”. Waktu itu, Tiongkok mengumpulkan sampel dari berbagai sudut di pasar tersebut dengan jumlahnya sebanyak 500 spesimen, termasuk banyak sampel yang positif. Sementara itu diambil pula sampel daging dan bangkai hewan.

Pada masa awal penularan wabah, para ilmuwan Tiongkok totalnya menyelesaikan pengambilan sebanyak 900 sampel di pasar. Pekerjaan itu sangat berat. Selain itu, mereka juga mengambil sampel dari air limbah, dan berupaya mendeteksi kelelawar di saluran ventilasi. Mereka mengambil sampel dari kucing jalanan dan tikus, bahkan seekor weasel. Selain itu, mereka juga mengambil sampel ular, kura-kura dan katak di pasar.

Para ilmuwan berpendapat, binatang liar tetap dipandang sebagai rantai penyebaran yang utama. Daszak mengungkapkan, daging kelinci yang terjual di pasar dan peternakan kelinci yang terlacak kemungkinan salah satu mata rantai penyebaran virus corona.

Sedangkan weasel dan binatang keturunannya juga mungkin membawa virus serupa. Sebagai informasi, para pedagang yang menjual daging binatang liar di pasar Huanan membelanja persediaan dagangannya dari para distributor di bagian selatan Tiongkok, sehingga kemungkinan juga adanya binatang lain yang terinfeksi virus dibawa ke pasar itu. Misalnya kelelawar Yunnan membawa virus yang mirip dengan virus SARS-Cov-2 yang mengakibatkan pandemi COVID-19.

Ke depannya, peternakan binatang dan kaum tani yang bekerja di sana hendaknya dijadikan sasaran pelacakan. Apabila ditemukan indikasi terkait virus di bagian selatan Tiongkok, maka daerah perbatasan Tiongkok-Vietnam, Tiongkok-Laos dan Tiongkok-Myanmar, khususnya daerah yang menjadi habitat kelelawar liar seharusnya ditetapkan sasaran penelitian utama.

Daszak mengugkapkan, tim peneliti dan para ilmuwan Tiongkok melakukan diskusi bersama pada hari terakhir misi WHO di Tiongkok. Mereka berpandangan bahwa hewan liar yang membawa virus SARS-Cov-2 ke Wuhan.

Penanganan Pandemi oleh Tiongkok dan AS Berbeda
Menurut laporan The New York Times, Peter Daszak, zoologist yang dilahirkan di Inggris hidup di AS dalam jangka panjang. Ia sekaligus Presiden EcoHelath Alliance AS. Daszak dalam wawancara itu membanding penanggulangan pandemi di Tiongkok dan AS.

Ia mengakui semua proses yang dialaminya sejak tiba di Tiongkok dari penggunaan APD, pemeriksaan virus sampai diisolasi dilakukan dengan ketat mematuhi protokol kesehatan. Namun ketika dia kembali ke New York, pengalamannya sama sekali berbeda dengan apa yang dialaminya di Tiongkok. Dia tidak diminta karantina maupun “melakukan isolasi di rumah”.

Sehari sebelumnya, The New York Times Dimarahi Para Ahli
Yang patut disebut ialah sehari sebelum penerbitan wawancara dengan Peter Daszak, media tersebut baru saja ditegur keras oleh Peter Daszak. Bahkan pada 12 Februari lalu, The New York Times masih “mengutip” perkataan sejumlah ahli WHO bahwa Tiongkok “menolak pembagian data asli yang bisa membantu dunia lebih mendekati asal-usul virus SARS-Cov-2”. Setelah diterbitkan, beberapa ahli yang “dikutip” oleh harian itu berturut-turut membantah laporan media tersebut, dan menyebut perkataannya dipulas atau didistorsi.

Daszak dan Thea Fisher dari Pusat Penelitian Klinis Rumah Sakit Nordsjalland adalah dua ahli yang disebut-sebut oleh artikel The New York Times. Fisher menulis di akun Twitternya bahwa perkataan mereka sengaja dibelokkan. Hal ini telah menyaput bayangan gelap terhadap penelitian sains. Kicauan Fisher itu langsung mendapat respons Daszak yang menyatakan kecewa terhadap The New York Times. Kekecewaan dan kemarahan Daszak juga mendapat tanggapan ramai para ilmuwan lainnya.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 143 Views

Update
No Update Available
Related News
Para demagog barat hendaknya tinjau kembali sejarah pelanggaran HAM mereka
Judy Chu kritik perkataan Trump mengenai `Virus Tiongkok`
Anggota Kodim 0716/Demak terima vaksinasi tahap kedua
×