Jumat, 04 Juni 2021 13:51

Nasib kuli Tionghoa di AS yang mengerikan

Luar Negeri

Pemerintah Daerah Otonom Uyghur Xinjiang menyelenggarakan jumpa pers ke-10 terkait soal Xinjiang di Beijing pada 3 Juni yang lalu. Para pejabat badan pemerintah, pengusaha di sektor tekstil dan tenaga solar fotovotaik, pakar dan sarjana serta karyawan perusahaan membantah teori salah kekuatan Barat anti Tiongkok termasuk Amerika Serikat terkait apa yang disebut adanya “kerja paksa” di Xinjiang. Juru Bicara Pemerintah Xinjiang Xu Guixiang menyatakan dengan mengutip adegan film dokumenter “America: The Story of Us” membuktikan bahwa ASlah negara yang benar-benar melakukan kerja paksa. Justru seperti apa yang dikatakan Xu Guixiang, penceritaan tentang nasib kuli Tionghoa di AS dalam film dokumenter tersebut “sungguh mengerikan.”

Ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang “tanggapannya terhadap pandangan opini Barat yaitu orang Xinjiang bekerja di pedalaman akan mengalami sensor bahkan pengawasan secara politik”, Kepala Kantor Sumber tenaga Manusia dan Jaminan Sosial Daerah Otonom Uygur Xinjiang, Rehemanjiang Dawuti memperkenalkan keadaan penempatan pekerjaan buruh Xinjiang ke pedalaman. Setelah itu Xu Guixiang menambahkan: “Belakangan ini, kami terus memperkenalkan keadaan terkait kepada anda sekalian, saya yakin masyarakat internasional semakin jelas terhadap kondisi ketenagakerjaan rakyat Xinjiang, termasuk penempatan kerja di propinsi lain Tiongkok. Mana mungkin terdapat ‘kerja paksa’ di Xinjiang dan propinsi lainnya di seluruh Tiongkok. Semakin banyak orang menjelaskan, ini sama sekali kartu permainan kekuatan Barat anti Tiongkok, sama sekali adalah teori salah yang dibuat sendiri.”

“Kalau dilihat sebaliknya, bagaimana tindakan yang dilakukan AS dan negara Barat lainnya? Kemarin saya menonton sebuah film dokumenter, dan saya berharap anda sekalian menonton juga film tersebut. Film ini bukan film baru, judulnya Amerika: The Story of Us. Film ini disyuting oleh studio film AS sendiri, setelah menonton film itu, saya merasa sungguh terkejut.” Kata Xu Guixiang, film ini mengisahkan di bagian Barat Amerika sedang diadakan pembangunan jalur kereta api yang menghubungi Timur ke Barat. Karena jaraknya panjang dan syaratnya yang buruk, pihaknya merekrut banyak buruh Tionghoa. “Salah satu proyek perlu dibuka terowongan dengan bahan mesiu, pihak AS dengan jelas menuntut buruh Tionghoa melakukan hal serupa. Mesiu kimia yang digunakan pada waktu itu sangat bahaya, harus dikerjakan secara hati-hati, akhirnya terjadi ledakan di luar dugaan, sejumlah besar buruh Tionghoa tewas dalam ledakan karena terlambat mencari tempat lindung dari lokasi.”

Xu Guixiang mengatakan, sejarah yang penuh pertumpahan darah itu sering terbaca dalam buku pelajaran sejarah AS. “Dalam laporan populasi tahunan AS, mereka juga mengakuti di AS terdapat serangkaian masalah serius seperti kerja paksa, prostitusi paksa, perbudakan utang dan sebagainya. Yang melakukan penyelundupan manusia dan kerja paksa bukan hanya negara sumber dan negara tujuan serta negara peralihan, tapi juga terdapat pejabat pemerintah AS.

Oleh karena itu, saya berpendapat, tindakan AS yang tidak mengindahkan fakta dan hanya tahu menodai Xinjiang tanpa mawas masalah diri sendiri itu, merupakan tindakan yang sangat buruk dan tidak moral.

Menurut informasi publik, AS, Cerita Kami (America: The Strory of US) adalah sebuah film dokumenter yang terbagi dalam 12 episode. Menurut perkenalan situs web resminya, “Ini merupakan seri film dokumenter pertama yang secara komprehensif menceritakan sejarah AS selama 40 tahun ini”, adegan yang disinggung Xu Guixiang dikutip dari episode Ke-6. Nah, sekarang mari kita bersama menonton film dokumenter ini dan simak bagaimana pelukisannya tentang buruh Tionghoa yang membangun rel kereta api.

Dikabarkan, Jalur Kereta Api Pasifik yang dinilai sebagai salah satu dari tujuh keajaiban industri dunia oleh BBC tersebut mulai dibangun pada tahun 1863, dan selesai dibangun pada tahun 1869, panjangnya mencapai 2000 mil. Pada masa yang kekurangan mesin modern itu, hanya mengandalkan tenaga manusia dan alat yang sederhana, belasan ribu buruh Tionghoa mengatasi banyak kesulitan dan menyelesaikan pembangunan jalur kereta api ini.

Namun, mereka membayar harga yang sulit dibayangkan. Menurut laporan yang dimuat di Harian Peliput Sacremento pada 30 Juni 1870, tulang kerangka yang terangkat dari tempat sepanjang Jalur Kereta Api Pasifik berat totalnya mencapai 20 ribu lb. Menurut laporan ini, dan dihitung berdasarkan berat tulang orang dewasa biasanya menduduki 14% dari berat badannya, dan diperkirakan berat rata-rata buruh Tionghoa sekitar 119 lb, oleh karena itu 20 ribu lb dapat dihitung berasal dari sekitar 1200 orang. Namun, ini hanyalah sedikit dari jumlah total Kematian buruh Tionghoa, “Boleh dikatakan bahwa di bawah setiap bandalan rel terdapat tulang buruh Tionghoa”.

Yang ironis ialah, “kerja paksa” sekarang bahkan menjadi ala kekuatan anti-Tiongkok untuk memfitnah Xinjiang Tiongkok, industri tekstil dan industri fotovoltaik dan industri penting yang lain semuanya menjadi target serangan mereka. Menurut Wakil Kepala Asosiasi Industri Tekstil Xinjiang Liu Qingjiang, sesudah melakukan inspeksi di Xinjiang, ahli masyarakat internasional telah memberikan penilaian yang obyektif terhadap perusahaan tekstil Xinjiang di bidang penjaminan HAM dan kebebasan karyawannya. Liu Qingjiang menyatakan, menurut laporan Sertifikat dan Proyek Buruh Sosial (SLCP) yang disponsori merek internasional dan NGO internasional, Youden’s index pada Perusahaan Tekstil Huafu Aksu telah mencapai 96,9%. Angka ini dengan penuhnya memperagakan perusahaan ini sesuai dengan standar dan regulasi mitra kerja sama hilir rantai pasokan, dan dipastikan tidak ada gejala “kerja paksa”.

Para penanggung jawab perusahaan semuanya menyatakan menyambut badan dan perusahaan berbagai negara mengunjungi dan menginspeksi Xinjiang tanpa prasangka. Namun apa yang dapat diperkirakan ialah, bagi kekuatan anti-Tiongkok Barat yang selalu “pura-pura tidur”, fakta tidak penting. Justru seperti apa yang disebut Xu Xianggui di depan jumpa pers itu, di depan fakta, kami menemukan mereka tetap terus nekat bertindak, dan menciptakan kebohongan, tujuan mereka sangat jelas, yaitu merusak hubungan berbagai etnis di Xinjiang, dan menjadikan Xinjiang berada dalam situasi kekacauan. Niat mereka sangat jahat, inilah sebab kenapa mereka selalu menyebarluaskan kebohongan tanpa mengindahkan kenyataan.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 81 Views

Update
No Update Available
Related News
Kami sedang muda ke-20– Polsus Zhang Peiwei
Kami sedang muda ke-20: Tian Tian - penyebar luas budaya Tiongkok
Stasiun ruang angkasa Tiongkok bakal sejahterakan manusia
×