Kamis, 22 Juli 2021 10:22

Dengan tingkah tak terpuji, AS terus rekayasa kebohongan terkait “Peretas Tiongkok”

Luar Negeri

Baru-baru ini, AS dan sejumlah sekutunya mengeluarkan pernyataan yang memfitnah Tiongkok melancarkan “serangan cyber”. Apalagi AS menggugat empat warga negara Tiongkok dengan tuduhan “cyber theft” atau pencurian informasi melalui internet. Akan tetapi, rincian teknik yang dipublikasikan oleh AS belum cukup untuk membentuk rantai bukti yang lengkap. Tudingannya terhadap pihak Tiongkok semata-mata adalah pengadaan tanpa dasar dan pemutarbalikan fakta. Tingkah lakunya itu sangat tidak terpuji dan hanyalah manipulasi politik yang ingin menimpakan kesalahannya kepada orang lain.

Padahal, siapa yang sebenarnya imperium peretas terbesar di dunia sudah bukan rahasia lagi. Jika AS menyebut dirinya berada di urutan kedua, tiada negara lain yang lebih cocok untuk menduduki peringkat pertama. Selama ini, AS yang sepenuhnya unggul di bidang teknologi selalu giat melakukan pencurian informasi di internet terhadap negara lain tanpa memandang bulu. Informasi yang dicurinya dari informasi rahasia sensitif negara lain hingga biodata dan privasi perseorangan. Dari program penyadapan besar-besaran bernama PRIM, hingga skandal pengintaian komunikasi terhadap para pemimpin negara-negara sekutu yang diungkapkan oleh media Denmark, dunia kini semakin menyadari bahwa justru AS-lah yang pantas disebut sebagai perusak terbesar keamanan cyber global.

Salah satu perusahaan Tiongkok yang membidangi sekuriti siber menunjukkan, lembaga penyerang siber bernama APT-C-39 di bawah naungan Badan Intelijen Pusat atau CIA AS sudah melakukan infiltrasi dan serangan siber selama 11 tahun terhadap lembaga-lembaga penerbangan dan antariksa, sektor perminyakan, perusahaan internet skala besar dan badan pemerintah Tiongkok.

Serangan peretas AS tersebut sangat merugikan dan membahayakan keamanan nasional dan keamanan ekonomi Tiongkok.
AS sudah terbukti kuat sebagai negara yang melancarkan serangan siber terbanyak kepada Tiongkok, namun AS malah menuding Tiongkok sebagai “negara besar hacker”. Tingkah lakunya itu persis seperti apa yang dikatakan pepatah Tiongkok “pencuri pura-pura menjadi korban”.

Yang patut diwaspadai ialah, pada tahun-tahun terakhir, NATO yang dipimpin oleh AS secara terang-terangan memandang ruang siber sebagai medan perang yang baru, dan terus memperkuat manuvernya di jaringan internet. Hal ini menambah risiko terjadinya konflik bahkan konfrontasi siber antar negara sehingga mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Tahun lalu Tiongkok menggagaskan Inisiatif Keamanan Data Global (Global Initiative on Data Security), memprakarsai pembentukan tata pengelolaan ruang siber yang damai, aman, terbuka, kooperatif dan teratur. Inisiatif tersebut mendapat respons positif banyak negara berkembang, namun ditanggapi dingin oleh dunia Barat. Penyebabnya juga sederhana, yakni mereka khawatir akan kehilangan posisi hegemonisnya di jaringan internet.

Menodai orang lain tak akan dapat membersihkan diri sendiri. AS beserta sejumlah sekutunya yang menelurkan kebohongan tentang serangan siber dari Tiongkok hanya akan membuat dunia semakin menyadari bahwa mereka selalu tak segan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan posisi hegemonisnya di ruang siber. Fakta sudah membuktikan bahwa mereka sungguh-sungguh memiliki rekam jejak yang sangat buruk.

favorite 1 likes

question_answer 0 Updates

visibility 101 Views

Update
No Update Available
Related News
Penelusuran virus gaya AS adalah sebuah permainan politik
Bunga Teratai Salju Mekar - Kisah Zeng Xiaoming
Bunga Teratai Salju Mekar - Kisah Wurzapar
×