Selasa, 22 November 2022 10:57

Bumi dalam kemelut, negara-negara maju harus bertanggung jawab

Luar Negeri

Konferensi perubahan iklim COP27 UNFCCC ditutup di Sharm El Shikh, Mesir pada hari Minggu lalu (20/11) setelah diperpanjang 36 jam dari rencana semula. Konferensi telah meluluskan puluhan keputusan, termasuk disahkannya pembentukan dana kerugian dan kerusakan untuk membantu negara-negara berkembang yang terdampak perubahan iklim, terutama negara-negara rentan.

Pembentukan dana itu dianggap sebagai sebuah hasil yang tidak mudah dicapai, dan dipuji telah memenuhi kebutuhan mendesak negara-negara berkembang, dan bakal aktif mendorong proses penanganan perubahan iklim secara global. Sekjen PBB Antonio Guterres dalam pernyataannya menunjukkan, COP27 telah mengayunkan langkah yang krusial dalam menegakkan keadilan.

Tiongkok sebagai negara berkembang terbesar, selalu berperan sebagai aktivis sejati dalam menghadapi masalah iklim. Dari tahun 2012-2021, Tiongkok telah merealisasi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen dengan rata-rata konsumsi 3 persen energi per tahun. Selain itu, emisi karbon dioksida per unit PDB Tiongkok pada tahun 2021 telah menurun sebesar 34,4 persen dibandingkan pada tahun 2012, sama dengan telah mengurangi 3,7 miliar ton emisi karbon dioksida. Hingga saat ini, akumulasi investasi Tiongkok untuk energi baru terbarukan sudah mencapai 380 miliar dolar AS, dan menempati urutan pertama di dunia.

Dalam pertemuan COP27 di Mesir kali ini, delegasi Tiongkok berpartisipasi dalam diskusi seputar hampir seratus topik, dengan tegas melindungi kepentingan bersama negara-negara berkembang, dan telah memberikan sumbangan penting untuk mendorong konferensi mencapai serangkaian hasil positif. Perwakilan delegasi Tiongkok menyatakan, atas dasar pemenuhan komitmen pengurangan emisi yang berlebihan pada tahun 2020, pemerintah Tiongkok telah mengajukan target dan visi baru untuk mewujudkan puncak emisi karbon dioksida sebelum tahun 2030 dan netralitas karbon sebelum tahun 2060. Laporan Kongres Nasional ke-20 PKT mengajukan target untuk membangun modernisasi di mana manusia dan alam hidup berdampingan secara harmonis. The Wall Street Journal menyebut bahwa aksi nyata dari Tiongkok sudah melampaui komitmennya dalam hal penanganan perubahan iklim.

“Bumi kita masih berada di ruang gawat darurat,” demikian ujar Sekjen PBB Antonio Guterres. Untuk mewujudkan target yang tercantum dalam Kesepakatan Paris, diperlukan aksi nyata, bukan hanya slogan. Hasil-hasil COP27 dicapai dengan tidak mudah, dan aksi untuk menghadapi perubahan iklim masih menghadapi banyak tantangan, tetap membutuhkan tindak lanjut dan upaya keras, apa lagi dalam proses itu, yang penting ialah, negara-negara maju harus memenuhi komitmennya dan menuntaskan janjinya dengan tindakan nyata.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 66 Views

Update
No Update Available
Related News
Tiongkok dan Kuba bakal perdalam hubungan persahabatan istimewa pada era baru
Distributor sayur
KCJB: Jembatan bahagia Tiongkok-Indonesia yang saling menguntungkan dan menang bersama
×