Minggu, 16 Februari 2020 18:26

Kebohongan Pelosi dibantah di depan Konferensi Keamanan Munich

Luar Negeri

“Kenapa teknologi 5G diimpor ke negara Barat akan mengancam system politik? Apakah anda sungguh-sungguh berpendapat sistem demokrasi akan rapuh, hanya karena mendapat ancaman dari sebuah perusahaan Hi-tec seperti HUAWEI?” Demikian ditanyakan oleh Anggota Kongres Rakyat Nasional Tiongkok, selaku mantan Wakil Menteri Luar Negeri Fu Ying kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Patricia Pelosi.

Dalam pidatonya di depan Konferensi Keamanan Munich pada tanggal 14 Februari yang lalu, Nancy Pelosi mengecam Tiongkok hendak mengekspor hegemoni digital melalui perusahaan telekomunikasi besar-besaran HUAWEI, dan menganggap Tiongkok mengancam akan membalas dendam di bidang ekonomi kepada negara-negara yang tidak menggunakan teknologi mereka. Apabila mendefinisikan perkataan Pelosi atas hal yang tak pernah terjadi ini, yang paling cocoh ialah Delusi Paranonia.

Perkataan Pelosi itu dicurigai oleh Fu Ying yang juga menghadiri konferensi kali ini. Sebagaimana dikatakan Fu Ying, selama 40 tahun lebih dilaksanakannya reformasi dan keterbukaan, Tiongkok telah mengimpor berbagai macam teknologi Barat, kini Microsoft, IBM, Amazon berdaya dinamik di Tiongkok. Menurut Fu Ying, sistem politik Tiongkok tidak mengalami ancaman dari teknologi tersebut, sedangkan membantu Tiongkok mencapai kesuksesan. Menghadapi tepuk tangan hangat terhadap perkataan Fu Ying tersebut, Pelosi berdalih bahwa perusahaan Tiongkok bukan mode perusahaan yang bebas. Namun, apakah teman-teman Pelosi di Eropa juga menganggap begitu? Jawabannya tidak.

Dalam wawancaranya dengan Deputy Editor in Chief Kantor Berita Reuters, Wang Yi, Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok menunjukkan, sejumlah negara termasuk Inggris dan Jerman tidak percaya kabar hoax, melainkan bersedia memberikan suatu iklim bisnis bersaing adil bagi perusahaan-perusahaan berbagai negara termasuk HUAWEI di atas dasar penjagaan fundamendal keamanan fasilitas telekomunikasi di negerinya. Sebab apa yang membuat AS tidak bisa mengakui kebangkitan perusahaan negara lain di bidang ekonomi dan iptek? Barangkali dipicu oleh kepribadian gelap yaitu tidak berharap menyaksikan perkembangan negara lain, tidak berharap menyaksikan kesuksesan perusahaan negara lain.

Prinsip non-diskriminasi, merupakan salah satu patokan mendasar ekonomi pasar atau apa yang disebut Pelosi sebagai mode perusahaan bebas. Prinsip tersebut dianggap sebagai kesepakatan serius oleh berbagai peserta pasar seputar persaingan adil. Namun sayang sekali, sejumlah politikus AS tidak hanya merusak kesepakatan tersebut pada masalah 5G HUAWEI, tapi juga dengan sekuat tenaga menghalangi mitra Eropa mengadakan kerja sama dengan HUAWEI. Dalam beberapa waktu lalu, sejumlah elite di Washington bersikeras untuk melakukan tindakan proteksionisme seperti pengenaan sanksi perdagangan sepihak, dengan serius menghancurkan tata tertib pasar dan keyakinan para investor.

Teknologi 5G HUAWEI, sama sekali bukan tantangan kepada demokrasi Barat. Sebabnya muncul dalam intern negara-negara Barat. Tak lama sebelumnya, Pelosi di hadapan Kongres merobek naskah pidato kenegaraan presiden, sempat mengungkapkan gejala perselisihan partai politik AS dan polarisasi politik di AS. Polarisasi politik sudah membuat demokrasi Barat semakin rapuh, tidak hanya menjadikan pemilihan sebagai “hiburan yang simbolis” bagi masyarakat AS, bahkan mendorong penyebaran anti-globalisasi. HUAWEI, cuma adalah kambing hitam dan korban.
  

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 62 Views

Update
No Update Available
Related News
Media dan masyarakat AS dukung Kapten Kapal Induk `Theodore Roosevelt` yang dipecat
Xi Jinping adakan inspeksi di lahan basah Hangzhou
Wisatawan ajak Presiden Xi naik perahu bersama
×