Sabtu, 23 Mei 2020 14:25

Terang-terangan manipulasi data kematian kasus COVID, Politikus AS pasrah dalam kebuntuan

Luar Negeri

Laman berita politik AS, The Daily Beast mengungkapkan, para pemimpin AS beserta gugus tugas penanganan wabah virus corona Gedung Putih memberikan tekanan kepada Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) untuk bekerja sama dengan berbagai negara bagian, mengubah cara pendataan angka kasus Kematian dari COVID-19. Walhasil, jumlah pasien yang meninggal dari wabah virus corona di berbagai negara bagian AS menurun secara misterius. Ternyata, intervensi politik dari Gedung Putih sudah menggurita hingga pendataan medis.

Seiring dengan mendekatnya pilpres dan terus menanjaknya angka Kematian dari COV ID-19, para politisi AS masih terus berkepala batu tanpa mengindahkan peringatan dari kalangan profesional, bahkan berani melakukan manipulasi atas angka kematian di berbagai negara bagian, sengaja menurunkan angka kematian.

Oleh karena itu, CNN AS dalam pemberitaannya memperingatkan bahwa data pengetesan yang diumumkan Gedung Putih tidak boleh dijadikan referensi tunggal ketika mempertimbangkan pembukaan kembali bisnis atau sekolah. CNN melaporkan dengan merujuk laporan dari Pusat Penelitian Penyakit Menular University of Minnesota, bahwa data pemeriksaan yang diumumkan Gedung Putih maupun berbagai negara bagian adalah informasi yang tidak lengkap. Apalagi berbagai negara bagian masih tidak terjamin persediaan alat-alat tes yang tercukupi karena koordinasi dan distribusi di AS masih dalam keadaan kacau balau.

Sementara itu, para ahli medis AS umumnya berpandangan perlunya melakukan pengujian virus corona secara lebih sistematis dan jitu sebelum pembukaan kembali ekonomi AS secara aman.

Akan tetapi, Gedung Putih yang terbawa nafsu kuat mencari dukungan para pemilih melalui pembukaan kembali ekonomi tidak mau menghiraukan kecemasan masyarakat. Antara dukungan para pemilih dan keselamatan jiwa, para politisi Gedung Putih ternyata sudah memilih kepentingan politiknya daripada keselamatan jiwa warga.

Dengan merajalelanya arus anti-intelektualisme yang menempatkan politik di atas sains, sejumlah pekerja sains AS sudah menjadi “korban” dalam perjuangan melawan pandemi. Rebekah Jones dari Florida langsung dicopot badan kesehatan setempat hanya karena dia menolak mengubah data terkait pandemi COVID-19 secara manual yang dimaksudkan untuk pembukaan kembali ekonomi. Nancy Messionnier, kepala Departemen Imunologi dan Penyakit Saluran Pernafasan CDC AS juga diberhentikan dari jabatannya hanya karena dia pernah mengeluarkan peringatan akan risiko penyebaran klaster virus corona secara komunal.

Saat ini, angka Kematian dari COVID-19 di AS sudah mendekati 100 ribu orang. Mantan Kepala CDC AS, Tom Frieden memperingatkan “pandemi di AS masih belum mencapai puncaknya”. Menghadapi situasi wabah yang mendesak, para pembuat kebijakan Washington malah terus meminta masyarakat kembali bekerja tanpa mengindahkan peringatan para ahli medis. Mereka hanya memikirkan bagaimana mencari dukungan dalam pilpres melalui pembukaan kembali ekonomi, keselamatan jiwa rakyat sama sekali tidak dipertimbangkannya. Impulsifnya yang tidak masuk akal ini pasti akan merenggut lebih banyak jiwa rakyat AS.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 17 Views

Update
No Update Available
Related News
Bagaimana Wuhan wujudkan deteksi asam nukleat kepada jutaan warga kota?
KBRI Washington DC pastikan kondisi WNI di Amerika Serikat dalam kondisi aman
Wawancara eksklusif Zhu dan dengan Carrie Lam Cheng Yuet-ngor
×