Jumat, 03 Desember 2021 13:49

Wawancara ekslusif dengan ketua asosiasi peninggalan budaya Tiongkok Shan Jixiang

Luar Negeri

Konferensi Internasional “Memahami Tiongkok” 2021 yang mengangkat tema “Dari Mana dan ke Mana--Perubahaan Seratus Tahun Dunia serta Tiongkok dan PKT” digelar di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok dari tanggal 1-4 Desember. Wartawan CMG mengadakan wawancara khusus dengan Mantan Direktur Museum Istana Kuno merangkap Ketua Asosiasi Peninggalan Budaya Tiongkok, Shan Jixiang pada hari Kamis kemarin (2/12).

Pertanyaan 1: Menurut Anda, bagaimana Tiongkok yang sudah perkasa bergaul dengan dunia? Bagaimana peradaban Tionghoa berkomunikasi dengan peradaban lain di dunia?

Jawaban: Ini adalah sebuah pertanyaan yang besar. Tiongkok adalah negara berkembang satu-satunya dalam 5 anggota tetap PBB, juga sebuah negara peradaban kuno yang bersejarah lama. Pertama-tama, seharusnya diadakan komunikasi dan dialog yang lebih baik antar peradaban kuno, itulah semacam konteks alami dan kebutuhan bersama, oleh karena itu, misalnya di Istana Kuno, kami telah mendirikan “Forum Taihe”, sebuah forum tentang negeri peradaban kuno.

Pada awalnya, kami mengajak 8 negara peradaban kuno untuk bersama Tiongkok mensponsori forum tersebut, namun kemudian perlahan-lahan berkembang menjadi 20 anggota. Kekuatan budaya di berbagai negeri peradaban kuno di dunia, pengaruh peradabannya terhadap dunia serta peranannya dalam masyarakat internasional hari ini akan dikumpulkan dan dirilis melalui simposium tahunan.

Tiongkok hendaknya menciptakan lingkungan yang adil dan setara serta menggunakan cara penyebaran dan dialog yang dapat dipahami oleh pihak lain.

Museum Istana Kuno aktif mengadakan pameran ke berbagai negara yang memiliki sistem sosial yang berbeda di 5 benua, menceritakan peradaban Tionghoa dan upaya Tiongkok dalam melindungi peradaban melalui benda-benda budaya yang tak bersuara itu. Hasilnya amat memuaskan.

Selain cara itu, kolaborasi internasional juga perlu ditingkatkan. Misalnya, Tiongkok berpartisipasi dalam perbaikan Angkor Wat di Kamboja, arkeologi di Kenya, arkeologi bersama di Jalur Sutra Uzbekistan, serta berpartisipasi dalam kerja sama restorasi peninggalan budaya yang mendalam dengan sejumlah lembaga budaya Italia, Prancis dan AS.

Pertanyaan 2: Banyak orang asing yang ingin mengenal budaya Tionghoa melalui harta nasional Tiongkok. Apakah Anda bisa membayangkan perkembangan Istana Kuno pada 30 tahun ke depan?

Jawaban: Target pertama kami adalah mengimplementasikan instruksi Sekjen Xi Jinping agar benda-benda budaya di Kota Terlarang, peninggalan-peninggalan yang dipamerkan di seluruh Tiongkok, dan tulisan-tulisan di dalam buku kuno itu dapat dihidupkan kembali, agar masyarakat di seluruh dunia dapat lebih memahami budaya Tionghoa melalui peningkatan kerja sama dan pertukaran internasional, pameran dan film. Sementara itu, produk budaya kreatif Tiongkok juga dapat dibawa ke berbagai tempat melalui puluhan ribu pengunjung ke Istana Kuno setiap hari.

Pertanyaan 3: Bagaimana Anda secara ringkas memperkenalkan Tiongkok kepada sahabat-sahabat mancanegara?

Jawaban: Sebenarnya jumlah pengunjung asing ke Istana Kuno juga banyak. Kami akan memberi penjelasan kepada mereka dengan menggunakan budaya tradisional Tionghoa yang unik di Istana Kuno. Misalnya, budaya “keharmonisan” atau “He” Tiongkok, kata ini digunakan dalam nama IstanaTai He, Balairung Zhong He, Istana Bao He serta Gerbang He Xi di Istana Kuno. Apakah itu budaya harmonis Tiongkok? Yaitu hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dan alam, antar manusia, serta di dalam lubuk hati manusia. Tiongkok berharap dunia adalah sebuah masyarakat yang harmonis.

favorite 0 likes

question_answer 0 Updates

visibility 126 Views

Update
No Update Available
Related News
Gladi pertama gala Tahun Baru Imlek 2022 digelar
Tuduhan terhadap Chen Gang dicabut
Kegagalan demokrasi ala AS pada tahun lalu
×